Cari Berita...
METROLINE
Sabtu, Agu 22, 2026
  • Regional
    RegionalTampilkan Lebih Banyak
    Kebumen Buka Peluang Kerja Sama dengan Australia di Sektor Wisata, Pendidikan, dan Perdagangan

    Kebumen — Pemerintah Kabupaten Kebumen mulai membuka peluang kerja sama dengan Australia…

    6 Min Read
    Kebumen Ingin Kerja Sama Australia Berlanjut ke Program Konkret

    Kebumen — Pemerintah Kabupaten Kebumen mulai membuka peluang kerja sama dengan Australia…

    6 Min Read
    Sampah Uruk Bekas Galian Embung, Lahan Pemerintah di Jaktim Terbengkalai

    Jakarta — Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengungkap latar belakang munculnya tempat pembuangan…

    4 Min Read
    Krisis Air Meluas, Pemkab Bandung Barat Percepat Pembangunan 48 Sumur Bor

    BANDUNG BARAT – Pemerintah Kabupaten Bandung Barat mempercepat pembangunan 48 sumur bor…

    3 Min Read
    Respons Keluhan Warga, Wali Kota Agustina Pastikan Perbaikan Jalan Kalipancur Terus Dilakukan

    SEMARANG – Komitmen Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng dalam menghadirkan infrastruktur jalan…

    2 Min Read
  • Nasional
    NasionalTampilkan Lebih Banyak
    4.258 Gempa Susulan Terjadi, BMKG Perkuat Pemantauan di Wilayah NTT

    Jakarta — Aktivitas kegempaan di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) masih terus…

    4 Min Read
    KPK Bergerak di Purwokerto, Rektor Unsoed Masuk Daftar yang Diamankan

    Purwokerto — Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali melakukan operasi tangkap tangan (OTT).…

    3 Min Read
    Kabut Asap Ganggu Sarawak, Siswa 108 Sekolah Belajar dari Rumah

    Kuching — Pemerintah Malaysia mengambil langkah pencegahan dengan menutup sementara sebanyak 108…

    4 Min Read
    TNI AU Tingkatkan Respons Kemanusiaan dengan Kirim Nakes ke NTT

    Jakarta — TNI Angkatan Udara (TNI AU) kembali mengambil langkah untuk membantu…

    3 Min Read
    Asosiasi Desak Transparansi Skema 92:8 Jelang Terbitnya Perpres Ojol

    Jakarta — Pembahasan Peraturan Presiden (Perpres) yang mengatur transportasi berbasis aplikasi, termasuk…

    3 Min Read
  • Ekonomi
    EkonomiTampilkan Lebih Banyak
    Perry Warjiyo Mundur dari Jabatan Gubernur Bank Indonesia

    Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, resmi mengundurkan diri dari jabatannya. Pengunduran diri…

    1 Min Read
    Harga Minyak Dunia Melonjak Hampir 10 Persen dalam Sepekan

    Jakarta – Harga minyak mentah dunia mencatat kenaikan tajam sepanjang pekan ini.…

    4 Min Read
    Harga BBM Pertamina Turun, Berikut Daftar Tarif Terbaru Berlaku 17 Juli 2026

    JAKARTA – PT Pertamina (Persero) masih memberlakukan penyesuaian harga sejumlah bahan bakar…

    2 Min Read
    Dari B40 ke B50, Indonesia Masuk Babak Baru Biodiesel

    Jakarta – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dijadwalkan meresmikan penggunaan bahan bakar…

    6 Min Read
    Stok BBM Menipis di Medan, Pengendara Rela Mengantre hingga Berjam-jam

    Medan – Kelangkaan bahan bakar minyak terjadi di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan…

    2 Min Read
  • Internasional
    InternasionalTampilkan Lebih Banyak
    Saudi, Turki, dan Pakistan Teken Pakta Pertahanan Bersama, Perkuat Keamanan Kolektif di Tengah Gejolak Timur Tengah

    Arab Saudi, Turki, dan Pakistan resmi memperkuat hubungan strategis mereka melalui penandatanganan…

    7 Min Read
    Pakta Pertahanan Saudi-Turki-Pakistan Bukan NATO Baru, Lalu Apa Artinya?

    Arab Saudi, Turki, dan Pakistan resmi memperkuat hubungan strategis mereka melalui penandatanganan…

    7 Min Read
    Tiga Perempuan Malaysia Diamankan di Bandara Soetta, Narkoba Ditemukan dalam Sepatu dan Barang Bawaan

    Jakarta – Petugas Bea Cukai Bandara Internasional Soekarno-Hatta mengamankan tiga perempuan warga…

    4 Min Read
    Iran Ungkap Alasan Membatalkan Serangan Balasan ke Ukraina

    Teheran – Pemerintah Iran mengungkapkan bahwa militernya sempat mempersiapkan operasi serangan terhadap…

    3 Min Read
    Iran Batalkan Rencana Serangan ke Ukraina Setelah Kyiv Sampaikan Permintaan Maaf

    Teheran – Pemerintah Iran mengungkapkan bahwa militernya sempat mempersiapkan operasi serangan terhadap…

    3 Min Read
  • Pendidikan
    PendidikanTampilkan Lebih Banyak
    DPR: Penguasaan Bahasa Asing Jadi Modal Generasi Muda Hadapi Dunia Global

    JAKARTA — Rencana Presiden Prabowo Subianto untuk memperkenalkan pembelajaran bahasa asing sejak…

    5 Min Read
    Pemkot Semarang Perluas Akses Pendidikan Lewat Program Sekolah Swasta Gratis

    SEMARANG – Pemerintah Kota Semarang terus berupaya memastikan seluruh anak mendapatkan akses…

    2 Min Read
    SPMB 2026 Dibuka, Pemkot Semarang Sediakan 6.000 Kursi Sekolah Gratis

    SEMARANG – Pemerintah Kota Semarang melalui Dinas Pendidikan resmi membuka Sistem Penerimaan…

    2 Min Read
    Pemkot Semarang Bayar Tunggakan SPP 122 Siswa dari Keluarga Tidak Mampu

    SEMARANG – Satu tahun kepemimpinan Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng bersama Wakil…

    13 Min Read
    LPDP Respons Polemik Alumni Pamer Status WN Inggris Anak

    JAKARTA – Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) angkat bicara terkait polemik di…

    2 Min Read
  • Olahraga
    OlahragaTampilkan Lebih Banyak
    Spanyol Taklukkan Argentina dan Jadi Juara Piala Dunia 2026

    East Rutherford – Tim Nasional Spanyol berhasil menjuarai Piala Dunia 2026 setelah…

    2 Min Read
    Spanyol Hadapi Argentina di Final Bersejarah Piala Dunia 2026

    Jakarta – Spanyol dan Argentina dipastikan bertemu pada partai final Piala Dunia…

    2 Min Read
    Clean Sheet Beruntun, Prancis Makin Dekat dengan Final Piala Dunia 2026

    JAKARTA – Tim nasional Prancis memastikan tempat di babak semifinal Piala Dunia…

    2 Min Read
    Mesir Ajukan Protes Resmi ke FIFA atas Kepemimpinan Wasit Francois Letexier

    Federasi Sepak Bola Mesir atau EFA secara resmi meminta FIFA melakukan penyelidikan…

    3 Min Read
    Wali kota Agustina Benahi Stadion TLJ, Siapkan Semarang Jadi Magnet Sport Tourism Jawa Tengah

    SEMARANG – Komitmen Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng dalam menghadirkan fasilitas publik…

    3 Min Read
  • Teknologi
    TeknologiTampilkan Lebih Banyak
    Masuk Jaringan ASEAN, Wali Kota Agustina Perkuat Tata Kelola Smart City Kota Semarang

    SEMARANG – Suksesnya Kota Semarang menembus jaringan ASEAN Smart City Network (ASCN)…

    3 Min Read
    Pemkot Semarang dan Ilkom Undip Gelar Kampanye #Ngadudilaporsemar untuk Percepat Respon Penanganan Banjir

    SEMARANG - Pemerintah Kota Semarang berupaya mempercepat respon penanganan banjir dengan mengoptimalkan…

    3 Min Read
    Terbaik dalam Transformasi Digital, Kota Semarang Boyong Penghargaan GM-DTGI Award 2025

    SEMARANG – Pemerintah Kota atau Pemkot Semarang kembali menunjukkan komitmennya dalam mewujudkan…

    4 Min Read
    Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Puji Dukungan Masyarakat Mewujudkan Semarang Wegah Nyampah

    SEMARANG – Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng menghadiri sesi diskusi dan pelatihan…

    2 Min Read
    Aplikasi Ayo Kerjo, Buktikan Serapan Tenaga Kerja di Jateng Tertinggi Nasional

    SEMARANG - Kepala Disnakertrans Provinsi Jawa Tengah, Ahmad Aziz, mengatakan, Pemprov Jawa…

    9 Min Read
  • Lainnya
    • Bisnis
    • Sosial & Budaya
    • Politik
Reading: Xi Jinping Ingatkan Ancaman Ketidakadilan Baru dalam Perkembangan AI Global
Bagikan
METROLINEMETROLINE
Font ResizerAa
  • Regional
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Internasional
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Lainnya
Search
  • Regional
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Internasional
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Lainnya
    • Bisnis
    • Sosial & Budaya
    • Politik
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Beranda » Blog » Xi Jinping Ingatkan Ancaman Ketidakadilan Baru dalam Perkembangan AI Global
Internasional

Xi Jinping Ingatkan Ancaman Ketidakadilan Baru dalam Perkembangan AI Global

Muhammad Noorman
Terakhir di perbaharui Juli 30, 2026 11:09 am
Muhammad Noorman
Bagikan
Bagikan

SHANGHAI – Presiden China Xi Jinping memperingatkan bahwa perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) berpotensi melahirkan bentuk ketidakadilan global baru apabila manfaat teknologi tersebut hanya terkonsentrasi pada sejumlah negara maju dan perusahaan besar.

Contents
Negara Berkembang Berisiko Hanya Menjadi PenggunaKesenjangan AI Mulai TerlihatAncaman Ekstraktivisme DigitalChina Tawarkan Pelatihan dan Kerja Sama AIStrategi China Juga Memiliki KepentinganOpen-Source Belum Menjamin PemerataanKeadilan AI Ditentukan oleh Pelaksanaannya

Peringatan itu disampaikan Xi dalam pidato utama pada pembukaan World Artificial Intelligence Conference atau WAIC 2026 di Shanghai, Jumat, 17 Juli 2026. Dalam kesempatan tersebut, ia menyerukan terbentuknya sistem tata kelola AI global yang lebih adil, terbuka, inklusif, dan dapat memberikan manfaat bagi seluruh negara.

Xi menilai kerja sama internasional perlu diperluas untuk membantu negara-negara Global South meningkatkan kemampuan teknologi mereka. Langkah tersebut dianggap penting untuk memperkecil kesenjangan digital sekaligus mencegah munculnya “ketidakadilan sejarah baru” dalam era kecerdasan buatan.

Istilah itu merujuk pada kekhawatiran bahwa negara-negara berkembang kembali menempati posisi paling rendah dalam perubahan ekonomi global. Mereka berisiko hanya menjadi pemasok data, sumber daya alam, mineral, energi, dan tenaga kerja murah, sementara keuntungan terbesar dari AI dinikmati negara pemilik teknologi serta perusahaan digital berskala global.

Negara Berkembang Berisiko Hanya Menjadi Pengguna

Para analis menilai pernyataan Xi menggambarkan kekhawatiran terhadap pengulangan pola ketimpangan yang terjadi dalam revolusi industri sebelumnya. Negara yang lebih dahulu menguasai teknologi memperoleh pertumbuhan ekonomi dan pengaruh politik yang besar, sedangkan negara yang tertinggal semakin bergantung kepada produk, infrastruktur, dan standar yang diciptakan pihak lain.

Dalam perkembangan teknologi digital, sebagian negara berkembang memang telah menjadi pasar yang besar. Namun, mereka belum tentu memiliki kemampuan untuk mengembangkan teknologi sendiri, membangun pusat data, melatih model AI, menentukan standar keamanan, maupun ikut menyusun aturan internasional.

Akibatnya, negara-negara tersebut dapat memiliki akses terhadap AI, tetapi tetap tidak memperoleh bagian ekonomi yang sebanding. Mereka menggunakan teknologi yang dibuat di luar negeri tanpa memiliki kendali besar terhadap data, algoritma, biaya, aturan, dan arah pengembangannya.

Kondisi itu menjadi semakin penting karena AI diperkirakan tidak hanya digunakan untuk membuat teks atau gambar. Teknologi tersebut akan terintegrasi dalam pendidikan, kesehatan, pemerintahan, manufaktur, pertanian, transportasi, keamanan, layanan keuangan, hingga pengambilan keputusan publik.

Apabila kemampuan AI hanya dikuasai segelintir negara, ketergantungan terhadap teknologi asing dapat menjadi semakin sulit diputus. Negara yang tidak memiliki kapasitas komputasi, tenaga ahli, data berkualitas, serta infrastruktur digital akan terus berada di belakang negara-negara yang telah memimpin pengembangan AI.

Kesenjangan AI Mulai Terlihat

Kekhawatiran terhadap kesenjangan tersebut bukan hanya muncul dalam perdebatan politik. Data internasional menunjukkan bahwa pengembangan AI saat ini masih terkonsentrasi pada sejumlah kecil negara dan perusahaan.

Laporan Technology and Innovation Report 2025 dari UN Trade and Development atau UNCTAD mencatat sekitar 100 perusahaan menyumbang 40 persen dari total investasi riset dan pengembangan korporasi dunia. Perusahaan-perusahaan tersebut sebagian besar berasal dari Amerika Serikat dan China.

UNCTAD juga menyebut 118 negara belum terwakili dalam pembahasan utama mengenai tata kelola AI global. Selain itu, kurang dari sepertiga negara berkembang telah memiliki strategi AI nasional. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa banyak negara masih menjadi penonton ketika aturan dan arah perkembangan AI mulai dibentuk.

Kesenjangan AI juga berkaitan erat dengan ketimpangan akses internet. International Telecommunication Union mencatat sekitar 94 persen penduduk di negara berpendapatan tinggi telah menggunakan internet pada 2025. Sebaliknya, tingkat penggunaan internet di negara berpendapatan rendah baru mencapai sekitar 23 persen.

Perbedaan itu menunjukkan bahwa pembicaraan mengenai keadilan AI tidak dapat dipisahkan dari persoalan infrastruktur dasar. Negara yang masih menghadapi keterbatasan listrik, internet, pusat data, perangkat digital, dan tenaga ahli akan kesulitan memperoleh manfaat optimal dari teknologi kecerdasan buatan.

Ancaman Ekstraktivisme Digital

Salah satu risiko yang disoroti para pengamat adalah munculnya ekstraktivisme digital. Pola ini terjadi ketika data, tenaga kerja, dan sumber daya dari negara berkembang digunakan untuk mendukung sistem AI global, tetapi manfaat ekonominya lebih banyak mengalir kepada perusahaan teknologi di negara maju.

Pekerja di sejumlah negara berkembang, misalnya, dapat terlibat dalam pelabelan data yang diperlukan untuk melatih model AI. Meskipun pekerjaan tersebut penting, upah dan nilai ekonomi yang diperoleh para pekerja sering kali jauh lebih kecil dibandingkan keuntungan perusahaan pemilik model.

Pembangunan pusat data juga membutuhkan pasokan listrik dan air dalam jumlah besar. Negara atau wilayah tempat fasilitas tersebut beroperasi dapat menanggung dampak lingkungan dan sosial, sedangkan keuntungan utama tetap dinikmati perusahaan pemilik infrastrukturnya.

Menurut para analis, ketimpangan berubah menjadi ketidakadilan ketika suatu negara tidak lagi memiliki kesempatan yang berarti untuk meningkatkan posisinya. Negara tersebut hanya menjadi pengguna teknologi, tidak ikut menentukan aturan, serta tidak mampu membangun industri AI lokal yang kompetitif.

China Tawarkan Pelatihan dan Kerja Sama AI

Untuk mendukung gagasan tata kelola AI yang lebih inklusif, Xi mengumumkan sejumlah program kerja sama bagi negara berkembang. China menjanjikan 5.000 kesempatan pelatihan dan seminar AI selama lima tahun mendatang.

China juga berencana mengembangkan pusat kerja sama aplikasi AI bersama sejumlah organisasi regional, termasuk ASEAN, Uni Afrika, Liga Arab, BRICS, Organisasi Kerja Sama Shanghai, serta organisasi negara-negara Amerika Latin dan Karibia.

Selain itu, China menawarkan penerapan sistem peringatan cuaca berbasis AI bernama Mazu di 30 negara. Teknologi tersebut ditujukan untuk membantu negara penerima meningkatkan kemampuan mitigasi bencana dan memberikan peringatan cuaca kepada masyarakat.

Sehari sebelum pidato Xi, China juga meluncurkan World Artificial Intelligence Cooperation Organization atau WAICO di Shanghai. Organisasi itu didirikan bersama 29 negara, termasuk Indonesia, Malaysia, Pakistan, Kazakhstan, Kenya, Afrika Selatan, Brasil, dan Rusia.

Pembentukan WAICO memperlihatkan upaya Beijing memperkuat posisinya dalam pembentukan tata kelola AI internasional. China tidak hanya ingin dikenal sebagai produsen teknologi, tetapi juga berusaha mengambil peran dalam penyusunan standar, kerja sama, dan aturan global mengenai kecerdasan buatan.

Strategi China Juga Memiliki Kepentingan

Meskipun berbagai program tersebut dapat membantu negara berkembang, para pengamat mengingatkan bahwa China tetap memiliki kepentingan ekonomi dan geopolitik.

Pelatihan, infrastruktur, model open-source, dan pusat kerja sama yang disediakan Beijing dapat mendorong lebih banyak negara menggunakan teknologi buatan perusahaan China. Dalam jangka panjang, langkah tersebut berpotensi memperluas pasar sekaligus memperbesar pengaruh China dalam ekosistem digital dunia.

Persaingan AI pun tidak lagi terbatas pada kemampuan menghasilkan model paling canggih. Amerika Serikat dan China juga bersaing menawarkan teknologi, infrastruktur, pembiayaan, serta sistem tata kelola kepada negara-negara lain.

Bagi negara berkembang, harga teknologi menjadi pertimbangan penting. Produk dan infrastruktur AI China dinilai lebih terjangkau dibandingkan sebagian solusi dari perusahaan Amerika Serikat. Namun, harga yang lebih murah belum tentu menjamin kemandirian teknologi apabila negara penerima tetap bergantung pada penyedia asing.

Open-Source Belum Menjamin Pemerataan

China selama ini mempromosikan model AI open-source sebagai salah satu cara memperluas akses teknologi. Melalui pendekatan tersebut, pengembang dapat mengakses, mempelajari, dan menyesuaikan model AI tanpa harus membangun semuanya dari awal.

Namun, ketersediaan model open-source saja tidak cukup untuk menghapus kesenjangan. Pengoperasian model AI tetap membutuhkan tenaga ahli, pusat data, pasokan energi, perangkat komputasi berkemampuan tinggi, serta sistem pengelolaan data yang memadai.

Negara yang tidak memiliki infrastruktur tersebut tetap akan kesulitan memanfaatkan teknologi secara mandiri. Mereka mungkin dapat mengunduh model AI, tetapi masih membutuhkan perusahaan atau negara lain untuk menyediakan server, pembaruan sistem, dukungan teknis, dan kapasitas komputasi.

Karena itu, pemerataan AI membutuhkan investasi yang lebih luas. Negara berkembang tidak hanya memerlukan akses terhadap model yang sudah jadi, tetapi juga pembiayaan penelitian, pengembangan talenta lokal, penguatan universitas, pembangunan infrastruktur digital, perlindungan data, dan keterlibatan dalam penyusunan aturan internasional.

Keadilan AI Ditentukan oleh Pelaksanaannya

Keberhasilan gagasan Xi mengenai tata kelola AI yang adil pada akhirnya akan ditentukan oleh pelaksanaannya. Program yang ditawarkan China harus memberikan ruang bagi negara penerima untuk menentukan kebutuhan, mengembangkan inovasi lokal, serta membangun kemampuan teknologinya sendiri.

Apabila pusat kerja sama hanya digunakan untuk menyalurkan produk AI China, hubungan yang terbentuk berisiko kembali menjadi pola antara pemasok dan pengguna. Negara berkembang memperoleh teknologi, tetapi tidak memiliki pengaruh besar terhadap cara teknologi tersebut dikembangkan dan diterapkan.

Tata kelola yang adil juga membutuhkan transparansi mengenai pendanaan, keanggotaan, pengambilan keputusan, perlindungan data, keamanan AI, serta pembagian manfaat ekonomi.

Peringatan Xi menunjukkan bahwa perlombaan AI bukan sekadar persaingan menghasilkan teknologi tercanggih. Perdebatan yang lebih besar adalah mengenai siapa yang akan menguasai teknologi, siapa yang memperoleh keuntungan, siapa yang menanggung risikonya, serta sejauh mana negara berkembang dapat ikut menentukan masa depan digital mereka.

Tanpa kerja sama yang setara dan pembangunan kapasitas lokal, AI berpotensi memperlebar jarak antara negara kaya dan negara berkembang. Sebaliknya, apabila akses, pengetahuan, infrastruktur, dan manfaat ekonominya dapat dibagikan secara lebih merata, kecerdasan buatan dapat menjadi sarana untuk mempercepat pembangunan, bukan menciptakan ketidakadilan global dalam bentuk baru.

Subscribe to Our Newsletter
Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!
[mc4wp_form]
Bagikan Artikel Ini
Email Copy Link Print
Artikel Sebelumnya Terlibat Perampokan Toko Emas dengan Senjata Dinas, Briptu MZ Dipecat dari Polri
Artikel Berikutnya Golkar Soroti Mahalnya Biaya Politik di Tengah Maraknya OTT Kepala Daerah
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru

4.258 Gempa Susulan Terjadi, BMKG Perkuat Pemantauan di Wilayah NTT

Jakarta — Aktivitas kegempaan di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) masih terus berlangsung setelah gempa bumi kuat mengguncang kawasan Flores…

By Muhammad Noorman
4 Min Read
KPK Bergerak di Purwokerto, Rektor Unsoed Masuk Daftar yang Diamankan

Purwokerto — Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali melakukan operasi tangkap tangan (OTT).…

3 Min Read
Kabut Asap Ganggu Sarawak, Siswa 108 Sekolah Belajar dari Rumah

Kuching — Pemerintah Malaysia mengambil langkah pencegahan dengan menutup sementara sebanyak 108…

4 Min Read

Mungkin anda menyukainya

Gempa Magnitudo 7,1 Guncang Jepang, Operasi Pencarian Korban Berpacu dengan Waktu

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,1 mengguncang wilayah Kumamoto di Pulau Kyushu, Jepang, pada Selasa, 28 Juli 2026. Bencana tersebut menyebabkan…

6 Min Read
Internasional

Indonesia Resmi Terpilih Jadi Anggota Komite Warisan Budaya Takbenda UNESCO Periode 2026-2030

Jakarta – Melalui persaingan yang ketat di Grup IV wilayah Asia-Pasifik, Indonesia berhasil terpilih sebagai anggota Komite Antarpemerintah untuk Perlindungan…

2 Min Read
Internasional

Rupiah Kembali Tertekan, Dolar AS Sentuh Level Rp17.597

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali mengalami tekanan. Berdasarkan data Investasi, rupiah melemah sekitar 0,39 persen hingga menyentuh…

3 Min Read

Prabowo Bertemu Macron, Bahas Kerja Sama dan Stabilitas Dunia

JAKARTA – Presiden RI Prabowo Subianto dijadwalkan akan menyampaikan posisi strategis Indonesia dalam menjaga stabilitas global serta mendorong terciptanya perdamaian…

2 Min Read
METROLINE
  • Tentang Kami
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Syarat & Ketentuan
Reading: Xi Jinping Ingatkan Ancaman Ketidakadilan Baru dalam Perkembangan AI Global
Bagikan

© Metroline. All Rights Reserved.

Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?